MALUTINDO.News, SANANA- Seorang anak lelaki inensial AF yang masih duduk di bangku sekolah SMA Kelas 1 di Kota Sanana diduga menyembunyikan seorang anak perempuan yatim inensial JR yang baru lulus dari bangku sekolah SMP di tobelo yang mau melanjutkan pendidikan SMA di Kabupaten Kepulauan Sula.
Selama dua malam tiga hari AF menyembunyikan JR tapi akhirnya AF ditangkap oleh orang tua JR , yakni Subarin Paukuma yang berstatus sebagai anggota polisi di Polres Sula yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di desa Umaloya dan istri Nurifani B. AF di tangkap di atas Kapal saat hendak mau kabur ke Ternate bersama teman nya.
Saat AF ditangkap di atas Kapal itu, hanya ibu JR yang sempat meluapkan kekesalannya dan menampar AF sebanyak dua kali sebagai ajaran, setelah itu AF langsung dibawah ke SPKT Polres Sula.
Nah dari kejadian penangkapan di atas kapal hingga AF ditampar oleh ibu JR sebagai bentuk ajaran itu akhirnya berbuntut panjang.
Orang tua AF malah tidak terimah dengan tindakan yang dilakukan oleh ibu dan ayah sambung JR itu, akhirnya Ayah AF, Aliudin Fatahudin malah melaporkan ayah dan ibu JR di SPKT Polres Sula terkait pengroyokan dan penganiayaan.
Orang tua JR (Nurifani Bicoli) kepada media, ia ceritakan kronologis yang sebenarnya tentang masalah tersebut hingga berujung penamparan sebagai ajaran kepada AF yang sudah menyembuyikan anak ponakan mereka JR selama 2 malam 3 hari.
Jadi awal nya, Alif alias AF itu dia inbox saya punya ponakan perempuan JR (15). Melaui pesan mesnger itu, AF mengajak ponakan saya baronda (Jalan-jalan) sekaligus nonton acara malam puncuk HUT Kabupaten Sula yang dilaksanakan di lapangan Kampis desa Fagudu, Kecamatan Sanana, pada hari Sabtu malam tanggal 31 Mei 2025.
Dari ajakan AF itu akhirnya ponakan saya JR mengiyakan. Namun disitu, JR kembali balas chat Alif, JR menanyakan kepada Alif, apakah saya boleh bawah teman saya lagi? Tapi AF jawab tidak mau.
“Hasil percakapan antara AF dan ponakan saya melalui pesan mesenger Itu ada semua, dan sudah saya simpan,”ucap Nurifani B selaku orang tua sambung korban JR.
Melalui percakapan ajakan di mesenger itu, akhirnya AF pun langsung menjemput JR dengan alasan baronda dan pergi nonton acara malam puncak HUT di lapangan Kampis, tapi ternyata tidak, AF malah membawa ponakan saya JR di salah satu penginapan, yakni penginapan Urifola di Desa Mangon,Kecamatan Sanana. AF bilang kepada JR ponakan saya bahwa, disitu dia punya teman punya tempat kos.
“Sesampainya di kamar Urifola lantai dua itu, awalnya mereka masih duduk sama-sama dengan teman-teman AF, ternyata itu hanya taktik AF saja. Tak lama kemudian teman-teman AF semuanya keluar dari kamar dan pergi meninggalkan AF dengan ponakan saya JR di kamar dengan alasan ada orang berkelahi di bawah jadi mereka turun,”ucap Nurifani mengutip penyampaian anak ponakannya JR.
Nah dari situ, menurut keterangan ponakan saya, setelah tersisa mereka berdua di kamar dan langsung terjadinya ‘Persetubuhan’ disitu.
“Setelah kejadian itu, ponakan saya mau pulang tapi AF malah menahan Hanpone ponakan saya. Dia sengaja tidak mau kasih Henpone agar ponakan saya JR tidak bisa pulang.
Setelah menahan henpone ponakan saya, AF lalu bilang kepada ponakan saya untuk jangan dulu pulang, tapi ponakan saya tetap minta pulang.
Karena ponakan saya terus minta pulang sehingga tepatnya jam 2 malam AF pun langsung mengantar pulang ponakan saya, tapi setelah dia turunkan ponakan saya, dia (AF) langsung pergi dan membawa lagi henpone pokan saya.
“Ponakan saya turun dari motor dan mau pergi menuju ke rumah tiba-tiba dia ingat Henpone nya tidak ada, kemudian ponakan saya langsung berbalik dan berteriak AF. AF yang pergi belum begitu jauh langsung berhenti dan dihampiri ponakan saya untuk mau mengambil henpone. Disitu bukan henpone yang diberikan, AF malah kembali membawah lagi ponakan saya pergi,”ujar Nurifani sesuai dengan penyampaian JR kepadanya.
Lanjut Nurifani AF bawah balik ponakan saya di penginapan Urifola di kamar yang sama dan mereka bermalam disitu. Disitu, ponakan saya bilang kepada AF bahwa dia sudah tidak berani pulang, kemudian AF mejawab kepada ponakan saya bahwa jangan pulang sudah.
“Di dalam kamar itu, tak hanya AF dan ponakan saya, ada juga teman-teman AF yang sedang pesta miras. Disitu mereka bilang kepada ponakan saya bahwa lebibaik jual Henpone itu sudah supaya torang pigi lari di Ternate. Karena sudah termakan rayuan dari AF dan teman-teman akhirnya ponakan saya pun menyetujuinya.
Karena ponakan saya juga sudah mau akhirnya mereka sempat memosting Henpone itu di Facebook untuk dijual namun tidak ada orang yang membeli karena itu HP iPhone nanti mudah di lacak.
“Karena Henpone tidak laku dijual, mereka kembali menjual motor AF. Nah, dari uang hasil jual motor itu mereka kembali pindah penginapan. Mereka pindah di penginapan Agung di Desa Fagudu, Kecamatan Sanana. Di penginapan agung itu AF dan teman-temannya pesta miras disitu, ada foto nya. semua.
Jadi pada sabtu malam tanggal 31 Mei, AF bawah ponakan saya JR nginap di penginapan Urifola, kemudian tanggal 1 bulan Juni, AF kembali membawa ponakan saya nginap di penginapan Agung.
“Pada malam pertama saat AF membawa ponakan saya itu, saya dan suami pun langsung bergegas mencari mereka namun tidak ditemukan. Karena tidak menemukan mereka, saya dan suami langsung ke rumah orang tua AF. Disana, kami sampaikan bahwa anak bapak dan ibu membawa ponakan perempuan kami dan sampai sekarang anak ponakan kami belum juga pulang ke rumah. Pada kesempatan itu, orang tua AF masih terimah kami dengan baik,”ungkapnya.
Tambah nurifani kemudian pada malam kedua,saya dan suami kembali mencari keberadaan AF dan ponakan kami. Saya dan suami mencari di semua kos-kosan dalam kota sanana, bahkan sampai di tempat-tempat yang biasa AF nongkrong tapi tidak ditemukan.
“Karena tidak ditemukan, saya dan suami kembali datangi orang tua AF di rumah. Dihapan kedua orang tua AF, saya bicara baik-baik, saya bilang ibu dan bapak, kalau boleh bantu cari lagi, mungkin saja ibu dan bapak tahu tempat nongkrong AF karena itukan ibu dan bapak punya anak,”ucap Nurifani menambahkan.
Pada kesempatan itu saya juga sampaikan kepada kedua orang tua AF, bahwa kalau memang malam ini kami belum juga menemukan ponakan perempuan kami maka maaf kami akan lapor.
“Dari penyampaian saya itu, kemudian ibu AF langsung mengelurkan bahasa bahwa, “Lapor sudah, torang juga tara suru dorang bakubawa lari kong”. Seperti itu penyampaian ibu AF kepada saya.
Saya pun langsung pulang dan kembali melakukan pencarian tapi tidak juga menemukan mereka. Kemudian suami saya bilang kepada saya bahwa coba posting foto mereka di media sosial Facebook, karena memang pikiran kami sudah buntuh lantaran sudah cari di semua kos-kosan, tempat tongkrongan dan pasar juga tidak menemukan.
“Dari saran suami itu, saya pun memosting foto AF di facebook. Saya posting malam, besoknya datanglah keluarga AF ke rumah saya. Mereka datang dengan membawah salah satu Anggota TNI yang katanya keluarga.
Anehnya, kedatangan mereka di rumah pagi itu, bukan mau membicarakan mengenai keberadaan anak mereka AF dan ponakan kami. Mereka malah membicarakan mengenai marga ‘Fatahudin’ katanya itu harga diri karena saya telah memosting di medsos.
“Mereka datang berbicara harga diri tanpa mereka berfikir anak perempuan kami yang dibawah oleh anak laki-laki mereka itu juga menyangkut harga diri. Disitu, saya langsung bilang kepada mereka bahwa kalau ibu dan bapak datang berbicara mengenai harga diri maka saya juga tidak terimah,soalnya anak kami juga perempuan dan itu juga menyangkut harga diri, ucap saya kepada mereka,” cetus Nurifani
Alhamdulillah, dari postingan saya itu, akhirnya ada yang kasi informasi kalau AF sementara ada disini. Mereka sampaikan bahwa sekarang ini AF punya teman ada cek kapal, mereka mau berangkat ke Ternate.
“Dari informasi itu, suami saya langsung pergi jaga di pelabuhan, itupun kami tidak tau AF itu punya muka yang model bagimana, karena memang di foto itu, muka AF samar-samar.
Meskipun tidak terlalu tau jelas muka AF, tapi saya dengan suami tetap jaga di Kapal, pas saya dengan suami sementara duduk-duduk di pelabuhan sambil melihat-lihat kiri dan kanan, tiba-tiba dia (AF) dan teman nya lewat, mereka memakai masker, disitu saya juga tidak tau kalau anak yang lewat itu AF atau bukan? Namun disitu suami saya sudah curiga kalau yang barusan lewat ini pasti AF dan teman nya. Karena menurut informasi yang kami dapat, katanya salah satu teman AF itu leher nya ada tanda merah-merah bekas cupang.
“Disitu suami saya mengikuti mereka berdua di dek dua, dan suami saya melihat ternyata memang benar di leher salah satu anak itu ada tanda merah. Suami saya langsung tanya, kamu Alif to? Kemudian langsung dijawab, bukan kita Riski. Dia masih mengelak dengan memakai nama lain. Kemudian suami saya balik dan tanya kepada teman nya yang ada tanda merah di leher itu, suami saya tanya, dia ini Alif to? Langsung teman nya menjawab, iya itu Alif.
Pada kesempatan itu, suami saya langsung menahan mereka bertiga Kemudian saya datang dan saya langsung tanya Alif, dimana saya punya ponakan perempuan yang kamu bawah selama 2 malam 3 hari? Dia langsung menjawab, saya tidak tau.
“Karena saya sudah panik, saya tanya lagi, dimana JR ngana kasi tinggal dia dimana? Ngana ambil dia punya Henpone baru ngana kasi tinggal torang pe ana dimana? Dia (Alif) tetap menjawab, tara tau tara tau, kita bawah dia cuma 1 malam saja. Disitu, karna saya terlalu emosi saya langsung tampeleng (Tampar) dia.
Setelah itu, suami saya langsung bawa dia turun dari kapal, pas dekat di tangga turun, saya tampar dia 1 kali lagi, sambil saya bertanya dimana JR dimana JR cepat kasitau.
“Pada kesempatan itu, ada juga anggota polisi yang lain yang pegang pa dia dan kasih aman pa dia sampai di ruang tunggu pelabuhan dan di depan pintu masuk pelabuhan AF langsung dibawah ke SPKT Polres Sula.
Sesampainya di SPKT, saya tanya lagi pa dia, dimana torang punya anak perempuan? Tapi dia (Alif) tetap menjawab tidak tau, beta (Saya) bawah dia cuma 1 malam.
“Karena dia terus mengelak, kemudian saya bilang, use (Kamu) punya chat semua beta su baca, jadi biar use tara mengaku tapi beta baca chat beta tau. Dari situ dia langsung mengaku, dia langsung bilang bahwa tadi itu dia mau berangkat dia kasi tinggal saya pe anak di penginapan deng cuma kasi tahan Doi (Uang) Rp.60.000 supaya nanti naik ojek pulang di rumah.
Meskipun anak laki-laki (Alif) sudah ditemukan dan dibawah ke SPKT, akan tetapi anak ponakan perempuan saya itu sudah tidak berani pulang.
“Karena pikiran sudah buntu dan sudah tidak berani pulang ke rumah dan entah bajalang dimana, akhirnya saya dengan suami harus mencari ponakan kami lagi, dan alhamdulillah kami temukan dia pada hari senin sore.
Terkait masalah ini, Sambung Nurifani, kami pun akhirnya saling lapor. Ayah AF, Aliudin Fatahudin melaporkan saya dan suami atas tuduhan penganiayaan dan pengroyokan, sementara saya dan suami meloporkan anak Aliudin Fatahudin, AF tentang persetubuhan anak dibawah umur.
Kemudian, meskipun kami adalah pihak korban namun kami masih mau berupaya untuk menyelesaika kasus ini secara kekeluargaan.
“Kami pihak dari keluarga JR sudah ber ulang kali mencoba jalur kekeluargaan karena kami masih berpikir resiko atau kemungkinn buruk yang terjadi kepada anak kami (Hamil) makanya kami masih berpikir jalur kekeluargaan, akan tetapi upaya kami untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluarga di tolak sebanyak tiga kali oleh Aliudin Fatahudin ayah AF,”terang Afni.
Nah kemudian beberapa waktu yang lalu, tepatnya hari Senin pagi, Bapak Aliudin Fatahudin dan salah satu orang yang katanya keluarga berprofesi sebagai Anggota TNI inisialnya RU,mendatangi ruang Provos Polres Sula dengan tujuan membicarakan masalah secara kekeluargaan.
“Kami sebagai keluarga JR akhirnya bertemu dengan keluarga AF di ruang Provos.Ternyata dalam pertemuan itu, Ayah AF memberikan kami dua permintaan sebagai syarat damai,”ucap Afni.
Dua permintaan yang diberikan Ayah AF itu, yang pertama, saya (Nurifani) selaku ibu JR diminta agar membuat permohonan maaf terkait Marga atau bin Fatahudin. Sementara permintaan kedua mereka belum menyampaikan dalam ruangan Provos itu, katanya permintaan kedua nanti di sampaikan sore hari, karena pada hari itu semua nya sibuk.
“Keesokan harinya saya pun menghubungi pak TNI RU melalui via WA, dengan tujuan ingin mengetahui permintaan kedua dari kelurga Aliudin Fatahudin Ayah AF. Pesan WA saya pun dibalas, kami diminta datang ke rumah AF.
Dari permintaan itu, kami pun setuju dan datang ke rumah AF. Dalam pertemuan di rumah AF itu kami ditemani salah satu anggota Provos yang piket pada hari itu. Pada pertemuan itu dengan tujuan kami mau mendengar permintaan kedua dari Ayah AF, Aliudin Fatahudin.
“Pada pertemuan di rumah itu, mereka pun menyampaikan permintaan kedua. Kami keluarga JR sebagai korban malah diminta membayar uang ganti rugi sebesar Rp.150 juta.
Pertama mereka meminta ganti rugi Rp.150 juta akan tetapi di kurangi sendiri oleh pihak Aliudin Fatahudin,sehingga menjadi Rp. 100 juta.
“Dari permintaan mereka itu belum langsung disepakati atau diterimah oleh kami. Setelah mendengar permintaan itu, kami pun langsung pulang ke rumah,karena tujuan kami hanya mau mendengar permintaan kedua dari mereka,”,Papar Nuriafani B.
Keesokkan harinya, tepatnya hari rabu jam 6 pagi, saya menerima pesan WA dri anggota TNI berinisial RU, yang katnya keluarga dari orang tua AF, RU menyampaikan bahwa, Aliudin Fatahudin ingin mendengar jawaban soal persetujuan kami terkait permintaan kedua mereka, katnya waktu yang diberikan hanya sampai sore hari ini.
“Saya pun langsung membalas pesan WA itu, ya maaf pak 100 juta itu tong tara bisa penuhi, mengingat tong pe anak perempuan juga korban, jadi lanjut saja,”ujar Afni.
Lebih lanjut, Nurafni B mengatakan, jadi dalam kasus ini tujuannya sudah ke arah pemerasan,sedangkan kita sama-sama tau bahwa penamparan yang kami lakukan kepada AF itu sebagai bentuk ajaran karena telah menyembunyikan anak perempuan kami JR selama dua malam tiga hari. Sampai adanya tindakan penamparan kepada AF itu karena memang ada sebab dan akibat.
“Anak kami disembunyikan selama dua malam tiga hari,bahkan menjadi korban persetubuhan,lantas kenapa kami sebagai korban yang harus membayar ganti rugi kepada pihak sebelah? sedangkan disini yang paling di rugihkan adalah anak perempuan kami,”ucap Afni kesal.
Coba saja kalian ada di posisi kami, lalu anak perempuan kalian yang baru berumur 15 tahun dibawah oleh laki-laki, dan setelah mencari berhari-hari baru kalian menemukan laki-laki di atas kapal mau melarikan diri ke Ternate.
Kemudian kalian bertanya di mana anak kalian, lalu laki-laki itu menjawab tidak tau,sedangkan kalian jelas-jelas tau kalau laki-laki itu yang membawa anak kalian. Jadi kira-kira sehancur dan sepanik apa pikiran kalian sebagai org tua? ,” tutur Nurifani ibu korban.
Penulis : Ekhy Drakel
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Wawancara